Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, sekitar 80.000 pekerja mengalami PHK, meningkat dari 60.000 pada tahun 2023.
Sektor tekstil menjadi salah satu yang paling terdampak. Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) mencatat bahwa hingga Juni 2024, enam pabrik tekstil di Jawa Tengah dan Jawa Barat telah menghentikan operasinya, menyebabkan sekitar 11.000 pekerja kehilangan pekerjaan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 3.800 pekerja belum menerima pesangon yang jelas.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, menyatakan bahwa jumlah kasus PHK dapat mencapai 280.000, dengan sekitar 60 perusahaan di sektor tekstil berencana melakukan PHK yang dapat mempengaruhi hingga 200.000 pekerja.
Selain itu, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) juga berkontribusi pada peningkatan PHK di sektor teknologi.
Data dari situs pelacak PHK, layoffs.fyi, mencatat lebih dari 264.000 pekerja di-PHK pada tahun 2023, meningkat dari 165.000 pada tahun sebelumnya.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah dan pemangku kepentingan terkait perlu mengambil langkah proaktif, termasuk memberikan pelatihan ulang bagi pekerja yang terdampak dan menciptakan peluang kerja baru di sektor-sektor yang berkembang.